KERETA KEHIDUPAN


Baru-baru ini saya membaca sebuah buku, dalam buku ini mengumpamakan kehidupan sebagai sebuah perjalanan.




Masa kehidupan manusia, seperti menumpang kendaraan dalam sebuah perjalanan. Harus mengalami berkali-kali naik turun kendaraan. Kerap kali terjadi insiden. Kadang kala adalah kegembiraan diluar dugaan, kadang kala adalah kesedihan yang teringat sepanjang hidup.... begitu dilahirkan dalam dunia ini, kita sudah duduk didalam kereta kehidupan.


Kita mengira dua orang yang paling awal kita kenal - yakni ayah dan ibu, mereka selalu bisa mendampingi kita dalam perjalanan hidup ini. Sayang sekali, keadaan yang sebenarnya bukanlah seperti begitu. Mereka bisa turun di sebuah terminal pemberhentian, dan meninggalkan kita, sendiri tanpa bantuan. Kasih sayang mereka, curah-an perasaan mereka, pendampingan me-reka kepada kita yang tidak bisa diwakili, tidak akan ditemukan lagi.

Walaupun demikian, masih ada orang lain yang naik dalam kendaraan itu. Sebagian orang diantara mereka, akan mempunyai arti yang khusus bagi kita. Diantara mereka itu ada kakak-kakak dan adik-adik kita, ada teman baik dan handai taulan. Kita masih akan tahu dari pengalaman sebuah kisah cinta yang abadi untuk selamanya.

Diantara orang-orang yang duduk dalam kereta yang sama, ada yang santai dalam perjalanan, ada pula yang membawa kesedihan yang sangat mendalam.... Masih ada lagi, yang sibuk kian-kemari di dalam kereta, setiap saat siap membantu orang yang butuh dibantu. Ada banyak orang yang setelah turun dari kereta, masih selalu dikenang oleh para penumpang lain. Tetapi juga ada sebagian orang, ketika meninggalkan tempat duduknya, tak ada orang lain yang memperhatikan.

Kadang kala, pendamping perjalanan yang penting dan mempunyai kasih sayang mendalam bagi Anda malah duduk dalam gerbong kereta yang lain. Anda terpaksa harus menjauh darinya, melanjutkan terus perjalanan Anda.

Tentu saja, dalam perjalanan hidup ini, Anda juga bisa berjalan dengan terhuyung-huyung melewati gerbong kereta yang Anda tumpangi, untuk mencari dia.... tapi sayang sekali, Anda sudah tidak bisa duduk disampingnya, karena sudah ditempati oleh orang lain. Tidak masalah, perjalanan hidup ini memang penuh dengan tantangan, cita-cita, harapan, perpisahan, tidak boleh menoleh ke belakang.

Karena itu, sedapat mungkin membuat perjalanan ini menjadi menyenangkan! Bersikaplah baik terhadap semua penumpang yang Anda jumpai dalam perjalanan hidup ini, carilah semua titik-titik yang berkilau cahaya diatas tubuh mereka.

Ingatlah selalu, didalam perjalanan hidup ini, ada orang yang bisa ragu-ragu dan resah, karena kita sendiri juga bisa ragu dan resah. Kita harus memahami orang lain, karena kita juga membutuhkan pengertian dari orang lain.

Teka-teki dari kehidupan ini adalah :

Dimana tempat kita turun dari kereta?

Penumpang yang duduk disamping kita akan turun kereta dimana?

Dimanakah teman-teman kita akan turun dari kereta?

Kita tidak akan tahu...

Saya sering berpikir demikian, ketika tiba waktunya turun kereta, apa yang masih saya beratkan untuk ditinggalkan?

Saya kira, saya masih ada sesuatu yang berat hati untuk ditinggalkan. Berpisah dengan teman, saya akan merasakan kepedihan.

Membiarkan anak saya berjalan seorang diri, saya akan merasakan sedih. Dengan keterikatan saya berharap, ditempat pemberhentian akhir yang akan dicapai oleh setiap orang, kita masih bisa berkumpul bersama...

Ketika anak saya naik dalam kereta ini, tidak ada bawaan apa-apa, jika saya bisa mengisi sebuah kenangan yang indah dan manis dalam koper bawaan anak saya, saya akan merasa bahagia sekali.

Setelah turun dari kereta, jika masih bisa diingat dan dikenang oleh para penumpang yang berjalan bersama dalam kereta, saya akan merasakan senang dan terhibur.
Saya persembahkan kepada Anda sekalian, para penumpang yang berjalan bersama saya dalam kereta ini, semoga kalian menikmati perjalanan ini! (....)


1 komentar:

Anonim mengatakan...

Amal baik amal buruk pasti berlaku,karena nantinya akan dipertanggung jawabkan...


Top