Warga Asing yang Ikut Menikmati Puasa Bersama Keluarga


Ramadan kali ini adalah saat yang istimewa bagi dua "ekspatriat" di Persik Kediri, yakni pelatih Arcan Iurie Anatolievici dan sang kapten Danilo Fernando. Sebab, inilah kali pertama mereka menjalani ibadah puasa setelah menjadi mualaf.


RUMAH di permukiman mewah di kawasan Mojoroto Indah, Kota Kediri, sore itu tampak asri dengan taman yang tertata apik. Meski pagar kayu yang dicat cokelat kehitaman tinggi menjulang, pintu pagar dan dua pintu di depan dibiarkan terbuka. Pertanda sang pemilik rumah, pasangan pengantin baru, Iurie Anatolievici dan Shanty Sucihati, cukup bersahabat.

Berbeda dengan penampilannya saat mendampingi pemain di lapangan hijau, sore itu Iurie tampak santai dengan baju koko dengan motif bordir cokelat. Sang istri, Shanty, memakai jilbab putih dan baju berenda warna senada. Sebuah boneka macan putih berukuran besar dipajang tepat di salah satu kursi tamu. "Ya, ini si Macan Putih," kelakar Iurie kepada Radar Kediri (Grup Jawa Pos). Macan Putih adalah maskot dan julukan Persik Kediri, tim asuhannya.

Pasangan pengantin yang belum genap sebulan menikah itu tampak sibuk. Di dapur Shanty dan beberapa wanita anggota keluarga tampak menyiapkan hidangan khusus bagi sang suami. "Lagi siap-siap (berbuka) nih, Mas," kata Shanty sambil menuangkan kolak.

Menurut wanita asal Bandung itu, sang suami yang asal negerinya, Moldova, berada di Eropa Timur -dekat Laut Hitam- yang berbatasan dengan Rumania dan Ukraina, sudah terbiasa makan kolak yang populer menjadi hidangan pembuka (takjil) setiap puasa itu.

Meski sudah beberapa tahun tinggal di Indonesia -sebelumnya jadi pelatih Persija (Jakarta) dan Persib (Bandung)- memasuki Ramadan ini Iurie, panggilan akrabnya, mengakui mengalami banyak tantangan. "Semua terasa baru dan istimewa," katanya.

Mantan pemain liga di Moldova itu mengakhiri masa lajang dengan menikahi Shanty di Bandung pada 8-8-2008. Karena sudah menjadi seorang muslim, Iurie yang di Kediri sering disebut "Macan Iurie" itu pun berusaha menjalani puasa Ramadan.

"Kalau tidak makan, sebenarnya aku tidak ada masalah. Aku sudah terbiasa makan sekali sehari," katanya dengan bahasa Indonesia yang fasih.

Tiga hari terakhir Iurie mengaku mencoba tidak makan dan minum. Namun, ada hal yang menurutnya belum bisa dihilangkan. Yakni, merokok. "Semua tahu aku perokok yang berat sekali. Aku khawatir belum (bisa) berhenti merokok," katanya lantas tersenyum.

Gara-gara rokok itu pula yang membuat Iurie membatalkan puasa pada hari pertama dan kedua. "Mungkin karena baru pertama, jadi belum kuat. Hari pertama bertahan sampai siang (merokok). Pada hari kedua agak sore. Dan hari ketiga bisa lulus sampai saat buka," sambung Shanty.

Iurie pun mengakuinya. "Aku minta maaf kepada Tuhan. Aku baru belajar tentang Islam dan langsung masuk (bulan) Ramadan. Aku butuh waktu untuk belajar lagi," kata pelatih yang juga seorang direktur sekolah sepakbola dengan 400 siswa di Moldova tersebut.

Moldova yang berpenduduk sekitar 4,3 juta adalah negeri dengan sekitar 98 persen penganut Kristen Orthodoks. Namun, Iurie mengaku amalan Ramadan sama sekali tidak memberatkan dirinya. Termasuk soal menahan makan dan minum, serta bangun dini hari untuk makan sahur. "Saya yang bangunkan istri saya untuk sahur. Dia (Shanty) malah yang bermasalah, sulit dibangunkan," katanya diikuti tawa pasangan suami istri itu.

Iurie juga sangat senang setelah mengetahui puasa bisa diganti jika memang berhalangan. "Oh, ya? Aku baru tahu. Aku harus belajar banyak dari istriku," kata pria kelahiran Chisinau, Moldova, 15 November 1964 itu.

Selain bagi Iurie, Ramadan kali ini juga yang pertama bagi kapten Persik, Danilo Fernando. Dia mengikuti teman sesama pemain di Persik, Christian Gonzales, yang beberapa tahun lalu juga masuk Islam.

Seperti Iurie, saat ditemui Radar Kediri di rumahnya di kawasan Persada Asri, Balowerti, Kediri, Danilo mengenakan baju koko dan songkok hitam menunggu saat berbuka dengan istri. "Aku masuk Islam pada 24 Januari 2008 lalu di Surabaya. Jadi, ini Ramadan pertamaku," kata pemain asal Sao Paolo, Brazil, itu.

Danilo Menikmati Puasa Pertama Dengan Khusyuk

Menurut Danilo, dia menjadi mualaf hanya berselang empat hari sebelum mempersunting wanita asal Surabaya, Windy Fitriya Marzuki. "Waktu itu baca syahadatnya di Masjid Al Akbar, Surabaya," sambut Windy yang hari itu menutupi rambutnya dengan kerudung hitam.

Meski baru pertama menunaikan ibadah puasa, Danilo terbilang sukses. Sampai hari ketiga puasa, mantan pemain Persebaya itu belum bolong puasanya. "Hari pertama yang paling berat. Lemas sekali, tapi hari kedua dan ketiga sudah kuat. Sekarang ini juga kuat," kelakar pemain yang di Persik berposisi sebagai gelandang serang itu.

Lalu apa yang membuatnya begitu kuat menahan makan dan minum selama Ramadan? "Tidak ada. Setiap hari aku memang jarang makan. Hari biasa pun aku sehari bisa satu kali makan saja," tutur pemain berpostur tinggi besar itu.

Selain itu, kata Danilo, masakan istrinya mendukungnya untuk bisa bertahan di tengah lapar dan dahaga. "Pokoknya, harus ada masakan kacang merah dan steak daging. Kalau tidak, Danilo bisa lemes," tambah Windy yang berusia 24 tahun tersebut.

Di negerinya, Brazil, sekitar 73 persen dari 191 juta lebih penduduknya adalah penganut agama Katolik. Namun, Danilo yang bangga karena sudah dikhitan itu mengaku bersungguh-sungguh saat memutuskan jadi mualaf. "Aku masuk Islam bukan untuk main-main," kata pemain murah senyum itu.


Mengenai kegiatan bangun dini hari untuk sahur saat Ramadan, pemain yang sedang mempelajari gerakan-gerakan salat itu sama sekali tidak merasa berat. Sebab, mantan pemain Petro Kimia Putra itu mengaku memiliki kebiasaan tidur yang agak tak biasa. "Setiap hari aku tidur menjelang pagi. Jadi, kalau puasa begini, setelah sahur baru tidur," katanya. 


1 komentar:

Sonia mengatakan...

Alhamdulillah,Semoga beliau masul Ialam dari kesadaran hatinya bukan karena kawin dengan orang islam.Amin


Top